January 4, 2015 beninglara

Chapter 5: Perasaan

Permasalahan orang lain dapat menjadi pelajaran yang baik bagi Anda saat Anda memutuskan untuk tidakmencari sumber kesalahan itu sendiri.

Dear BeningLara,

Saya punya seorang Boss yang sangat pemarah dan bila marah roman mukanya menjadi tak menyenangkan dan mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Suasana kantor kami sering menjadi tak nyaman dan target-target malah menjadi tekanan yang tidak sehat. Saya menyukai pekerjaan saya tetapi benci bila Boss saya ini berada di kantor. Pernah dalam suatu kesempatan, salah seorang rekan kami terkena marah hingga menangis dan membuat kami semakin benci padanya. Tidak seharusnya seorang pemimpin membuat anak buahnya menjadi bulan-bulanan di depan banyak orang, alangkah tidak bijaksananya. Saya telah bekerja bersamanya lebih dari 3 tahun dan mungkin masih akan lebih lama lagi. Saya sering berdikusi dengannya dan bila dia tidak berkenan, nada suaranya yang melengking ini membuat saya malu pada rekan lain. Saya memutuskan untuk menemui Anda setelah pertengkaran sengit saya dengan boss saya tak terhindarkan lagi. Saya ingin keluar dari pekerjaan dan tak ingin menghadapi boss yang begitu kekanak-kanakan. Sebenarnya saya terkejut ketika Anda meminta saya tetap bertahan dan menghadapi boss yang pemarah dengan teknik mengolah perasaan. Pertama Anda meminta saya melihat boss saya dengan cara berpikir yang berbeda dan lebih positif, yaitu Anda meminta saya lebih dewasa secara personality dibandingkan boss saya. Inde Anda unik tetapi cukup menantang. Lalu Anda mengajarkan pada saya bagaimana membuang perasaan benci dalam dada saya dengan cara yang efektif. Saya mulai berpikir, saya lebih dewasa dan lebih mampu mengolah perasaan disbanding boss saya walapun di kantor dialah pemimimpin saya. Anda katakana bahwa boss juga manusia yang bias saja memiliki keterbatasan, dan saya harus lebih dewasa dalam hal ini karena ini berarti saya juga melatih diri saya untuk menjadi pemimpin. Saya tak lagi meneruskan energi amarah saya akibat boss saya yang pemarah yang dulu sering membuat saya gelisah sepanjang hari. Saya memilih untuk mengolah kemarahan menjadi komunikasi yang rendah hati. Ajaib, beberapa bulan kemudian, saya memperoleh reward dengan pencapaian target tertinggi dan boss saya menyalami saya dengan wajah bahagia. Itula kali pertama saya melihat seseorang yang pemarah menjadi bahagia. Saya tak lagi terpengaruh dengan kemarahan siapapun dan lebih focus pada diri saya sendiri.

Perasaan adalah alat komunikasi

Perasaan atau sering disebut dengan hati adalah alat komunikasi utama Tuhan dengan setiap makhluk hidup  dan memiliki mekanisme kerja yang sangat  mendasar seperti sebuah perangkat komunikasi, dengan kode-kode yang berupa rasa dan mempunyai daya tarik (maghnet) yang luar biasa kuat terhadap kejadian alam semesta. melalui perasaan Tuhan mengirimkan informasi tentang apa yang harus Anda kerjakan dan apa yang akan Anda terima. Juga Anda mengirimkan informasi tentang apa yang sangat Anda kehendaki melalui apa yang Anda rasakan.

Alam semesta tidak ‘berbicara’ kepada Anda secara verbal melainkan dengan bahasa-bahasa yang berupa getara-getaran. Hati Anda akan mengeluarkan getaran yang berbeda-beda sebagai akibat yang timbul dari perasaan Anda. Itula mengapa Anda perlu mejaga apa-apa yang Anda rasakan sebelum mengirimkan getaran rasa itu kepada alam semesta, karena alam semesta akan merespon sekecil apapun sinyal perasaan Anda. Jagalah hati Anda dari segala macam ketidaknyaman, karena baik perasaan ataupun pikiran berarti perintah Anda kepada lingkungan dan alam Anda denga jarak dan waktu yang tak terhitung.

Getaran perasaan Anda dapat terkirim sedemikian jauh tanpa terhalang oleh tembok baja sekalipun. Inilah sinyal pengantar gelombang terampuh yang tak dapat ditandingi manusia dengan alat apapun.

Bedanya Perasaan dan Pikiran

Perasaan lebih ke ‘saya marah’, ‘saya senang’, ‘saya cinta’ dan bukan pada ‘saya merasa marah’, ‘saya merasa senang’, ‘saya merasa cinta’; yang mengunakan ‘merasa’ itu artinya Anda sedang meyakinkan diri (afirmasi antara pikiran dan perasaan) bukan murni hasil kerja perasaan. ‘Saya marah’ artinyaAnda sudah dan sedang marah namun ‘saya merasa marah’ artinya kemarahan itu belum atau sudah atau bahkan sedang Anda pertimbangkan untuk marah dan belum benar-benar marah.

Pada dasarnya perasaan dan pemikiran adalah suatu hal yg berbeda, tetapi dapat berarti suatu hal yang sama dan memiliki perbedaan. Kedua hal tsb layaknya sisi muka dan belakang sebuah koin. Anda bereaksi atas suatu kejadian dengan menggunakan perasaan dan pemikiran. Perasaan adalah emosi dan sensasi dan kedua hal ini berbeda dgn pemikiran atau juga kepercayaan.

Getaran pikiran muncul dari otak dan getaran perasaan muncul dari dalam hati atau di sekitar dada. Pikiran dan hati yang selaras akan bersifat saling memperkuat getaran. Pikiran dan hati yang tidak sejalan tentu menghasilkan sinyal-sinyal yang lemah karena saling melemahkan.

Sifat hasil pikiran biasanya berupa alternatif-alternatif yang memiliki banyak percabangan, sedangkan sifat hasil perasaan berupa pilihan ya atau tidak. Kemampuan pikiran dalam membentuk percabangan sangatlah cepat dan terkadang menjadi lebih cepat dari apa-apa tindakan kita. Inilah yang menimbulkan tekanan dan menimbulkan depresi, karena pikiran yang tidak diiringi tindakan akan menimbulkan analisa baru yang imaginer.

Perasaan Adalah Perangkat Komunikasi

Tuhan telah mengajarkan cara-cara komunikasi pada Anda dengan memberi Anda perasaan. Bisikan hati adalah bentuk komunikasi Tuhan pada makhluknya. Apapun ‘rasanya’ perasaan Anda, itu adalah alat Anda untuk menentukan sikap dan tindakan apa yang akan Anda ambil.

Bisikan hati bisa pula berasal dari pikiran. Pikiran dengan cara kerjanya yang menganalisa akan mengirimkan hasil analisanya pada lapisan hati luar dan Anda tangkap sebagai sinyal perasaan. Bila Anda ‘merasa’ marah maka itu adalah perintah pikiran untuk menolak sesuatu yang tidak sesuai dengan hasil kerja analisa pikiran.

Menjaga hati bias dilakukan dengan membersihkan hati dari hasil kerja pikiran negative yang dapat menutupi lapisan hati. Perasaan sering diumpamakan seperti lapisan-lapisan kain bisa halus bisa kasar, atau seperti pisau yang bisa tajam bisa tumpul, atau seperti alat penangkap sinyal bisa kuat dan bisa melemah. Perasaan merupakan pintu gerbang menuju nurani (qolbu). Perasaan yang baik akan menuntun Anda pada nurani yang luas dan dalam.

Selama ini Anda menganggap bahwa perasaan adalah sesuatu yang tak bisa diubah, harga mati yang harus Anda terima. Bila Anda kecewa maka bisikan-bisikan hati Anda bisa berupa hal-hal yang kurang menyenangkan.

Layaknya perangkat bila perasaan sering digunakan, diasah, dirawat maka akan semakin tajam. Beda antara perasaan dengan perangkat buatan manusia adalah perasaan merupakan perangkat dari Tuhan yang luar biasa canggih, flexible, lentur, bersifat mendorong dan menarik yang berdaya kuat dengan kemampuan yang luar biasa tiada banding.

Alat Komunikasi Paling Bening : Perasaan Bayi

Mari Anda amati seorang bayi yang baru dilahirkan, seorag bayi kecil yang tidak nyaman akan menangis, bila dia membutuhkan cairan bayi akan ‘haus’ (=ingin minum). Perasaan inilah yang mendorong seorang bayi mencari pertolongan dengan menangis.

‘Haus’ berarti perasaan mengirim pesan pada alam semesta bahwa ada seseorang yang kekurangan cairan dan info untuk mengirim cairan,‘Lapar’ perasaan mengirim pesan pada alam semesta untuk mengirim makanan.

Dan perasaan bayi adalah antenna yang sangat kuat, jernih, bening dan menyatu dengan alam semesta.

Jadi bila ingin keinginan Anda tercapai lakukan seperti yang bayi lakukan, beningkan sinyal Anda, lalu ‘rasakan sensasi keajaiban’ dan lakukan afirmasi yang paling penting yaitu action (bayi take action dengan menangis sekuat tenaga).

Its so simple.